Pages

Laki-laki

Jumat, 17 April 2015



Kalau ada laki-laki yang sangat aku rindukan saat ini, dialah papa. Laki-laki yang penuh dengan percaya diri, yang aku tau semua demi membuatku termotivasi untuk menjadi lebih darinya. 

Laki-laki yang relah jauh dari keluarga selama bertahun-tahun bahkan meninggalkan moment-moment ketika anaknya tumbuh menjadi remaja, hanya agar kami bisa dapat kehidupan yang lebih baik.

Laki-laki yang saat ini telah berhenti dari rutinitas pekerjaannya, dan ikut membantu mama tanpa merasa gengsi. 

Laki-laki yang mengajarkanku untuk selalu berbelas kasihi karena katanya saat ia berada di daerah orang ia juga hidup dari belas kasihan orang lain.

Laki-laki yang selalu lucuh karena kata-kata aneh dan candaan khas kampungnya.
Laki-laki yang dapat menjadi teman duet terbaik, karena suara dan kemampuan bermain gitarnya yang sangat baik.

Laki-laki yang dengan senang hati memasak untuk mama ketika mama sedang sibuk-sibuk karena orderan jahitan yang menumpuk.

Tidak banyak kata yang bisa menggambarkan seperti apa dirinya, tidak semua yang kau rasakan bisa diungkapkan dengan kata bukan ?

Oh yah, satu lagi…dia laki-laki yang sangat suka dengan salah satu lagu Ebiet G. Ade, yang  potongan liriknya kurang lebih seperti ini,
---------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------
“Dari pintu ke pintu ku coba tawarkan nama demi terhenti tangis anakku dan keluh ibunya.
Tetapi nampaknya semua mata memandangku curiga seperti hendak telanjangi dan kuliti jiwaku.
Apakah buku diri ini harus selalu hitam pekat, apakah dalam sejarah orang harus pahlawan.
Sedang Tuhan di atas sana tak pernah menghukum dengan sinar matanya yang lebih tajam dari matahari….”

Hujan Hari Ini

Kamis, 16 April 2015



                Hari ini, hujan turun dengan derasnya tanpa intro sedikit pun. Saya terpaksa harus berteduh di suatu gedung Bank yang tidak begitu besar. Kepergian saya hari ini rencana untuk menyebar beberapa lamaran pekerjaan. Di teras gedung itu ada beberapa orang yang juga berteduh, seorang ibu dengan pakaian sederhana, seorang anak laki-laki muda yang sepertinya seumuran  dengan saya, satpam, dan bapak tukang parkir yang sudah lanjut usia.
                Hujan semakin deras, membuat saya semakin mengeluh walaupun dalam hati. Saya melirik ke teman saya yang sedang sibuk melihat update-an sosmednya. Dia tertawa sambil memperlihatkan layar HPnya yang berisi postingan lucu, saya pun ikut tertawa. Dan yang membuat saya bahagia adalah saya sadar bahwa di saat hujan seperti ini, Tuhan masih menempatkan orang sepertinya di samping saya.
                Hujan  mulai redah, masih agak rintik-rintik sih tapi saya dan teman saya akhirnya memutuskan untuk berenjak dari sana. Sambil menungguh teman saya memakai mantel, saya berusaha memperbaiki rambut saya yang sudah acak2kan tidak karuan karena air hujan. Bapak tukang parkir yang sedang duduk di dekat gerbang ternyata memperhatikan saya tanpa ekspresi. “Mari pak” kata saya kepada bapak tukang parkir sambil tersenyum, bapak itu membalas tanpa berucap, hanya senyum yang begitu ramah.
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS