Pages

Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Culture. Tampilkan semua postingan

Kemuliaan hati orang Toraja dalam pesta kematian

Rabu, 14 Maret 2018

Duluhnya dengan pikiran polos nan sok lugu (ditambah sedikit kebodohan), ku kira menjadi orang Toraja sungguh merepotkan.  Bayangkan saja, jika ada yang meninggal,  keluarga harus mengeluarkan uang untuk menjamu tamu yang datang melayat, tanggung jawab untuk mengembalikan "hutang" uang,  babi,  pa'piong,  atau apapun yang dibawa oleh si pelayat. Oh ya,  dan jangan lupa dengan rentang waktu yang dibutuhkan untuk mengubur yang telah meninggal itu bukan waktu yang sebentar.  Bisa seminggu,  bahkan hingga bertahun-tahun. Jika mengadakan ibadah penghiburan, katakanlah 3 kali berturut-turut seperti yang lasimnya dilakukan di kota rantepao (yes,  i'm not even talking about big funeral ceromy yang sesuai dengan tatanan rambu solo' yang baik dan benar).. bisa dibayangkan berapa banyak yang harus dikeluarkan keluarga yang berduka untuk menjamu pelayat yang datang.

Sekedar info saja,  saat mengadakan ibadah penghiburan paling tidak keluarga biasanya menyiapkan sekurang-kurangnya 3 macam menu makanan (daging,  ikan,  sayur)  belum lagi minumannya yaitu teh, kopi,  dan ballo' dan teng gelas untuk anak-anak (ke ma'pakena ki' ). Ah,  dan pastinya rokok. Oh,  dan keluarga tidak hanya merogoh kocek untuk makanan saat ibadah penghiburan ya,  namun jauh sebelum itu yakni saat persiapan menuju ibadah penghiburan.  Yup, keluarga tentu harus menjamu bapak-bapak yang membantu mendirikan tenda/lantang, ibu-ibu yang membantu menyediakan hidangan,  dll.  Syukurlah jika keluarga yang berduka memiliki penghasilan yang lebih untuk itu,  namun jika hidup mereka hanya cukup untuk sehari-hari atau bahkan kurang,  mereka bisa apa ? Ibaratnya,  kita yang berduka,  kita juga yang harus mentraktir orang-orang yang datang melayat dan membantu 😅 Duh repotnya jadi orang Toraja.  So,  jangan salahkan orang-orang yang ingin menikah dengan orang dari luar Toraja saja dengan harapan hidupnya tidak tambah syahduh dengan tanggung jawab "mantunu".

Tapi,  seminggu ini sepertinya pikiranku lumayan terbuka dari rangkaian ibadah penghiburan disebelah rumahku.  Dari pada melihat dari segi materil yang sepertinya begitu membebani keluarga yang berduka. Mari lihat sisi paling mulia dari prosesi ibadah-ibadah kedukaan yang dilakukan sebelum almarhum/a dipatanekan.

Keluarga yang berduka dan rumahnya sepi dari pelayat,  ibaratnya sudah terluka...eh,  tanpa sengaja lukanya kena tetesan jeruk nipis pula,  ahh sakitnya bertambah-tambah. Disisi lain keluarga yang sedang berduka tidak mungkin bisa saling menghibur satu sama lain,  mereka perlu orang lain untuk menguatkan mereka. Dan mengingatkan mereka bahwa ada banyak yang peduli pada rasa duka mereka,  terlebih lagi jika banyak yang datang melayat berarti banyak yang menyayangi orang yang telah meninggal itu. Dengan demikian keluarga tentu akan terhibur.

Kedua,  kenapa orang mati di toraja terutama yang beragama Kristen tidak langsung dikubur saja supaya keluarga bisa cepat move on dan tidak larut dalam duka seperti dengan agama lain? Well,  karena kadang-kadang kita lebih baik melepas secara perlahan,  rasanya lebih mudah ditanggung. Dengan "tidur" beberapa hari di rumah,  keluarga bisa belajar untuk melepaskan pun belajar untuk lebih ikhlas kehilangan. Dan pastinya dengan begitu keluarga bisa mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi hari penguburan. That's it.

Lebih dari semua itu,  kau bisa melihat kemuliaan di hati orang-orang Toraja ketika pesta kematian di gelar atau jika di daerah kota bisa disebut dengan ibadah penghiburan. Tetangga jauh nun di atas gunung pun yang dekat berdatangan. Mereka yang kenal dekat dengan sosok almarhum pun yang hanya sebatas tau nama almarhum datang tanpa rasa segan.  Yang laki-laki bahu membahu mengambil bambu,  memasang tenda,  membuat lantang,  memotong babi atau kerbau untuk dihidangkan saat ibadah penghiburan. Yang ibu-ibu memasak di dapur umum,  melipat kertas, mencuci piring. Yang anak-anak berlarian kian kemari membongkar isi rumah (curhat 😆)

Uniknya,  tetangga-tetangga yang jarang bertatap muka karena dibatasi oleh lorong pun gunung bertukar cerita dengan penuh keterbukaan terutama ibu-ibu, mereka saling menguatkan satu dengan yang lain. Di dapur, lelucon dewasa dan panasnya uap nasi berpanci-panci besar serta semerbak gorengan ikan lure (mairo atau entah bgmna cara org kota menyebutnya) saling bercium-ciuman di udara.  Dan pastinya lelucon itu tak perlu kubagikan di postingan ini karena akupun (pura-pura)  tidak mengerti. Dan lagi perilaku yang telah tiada menjadi cerita yang "disucikan" oleh tetangga-tetangga terdekat.  Yang jelek seolah menghilang atau diceritakan dengan lucu sehingga terdengar wajar. Dan kebaikan almarhum/a diceritakan terus menerus. Sungguh hawa yang menyejukkan.

Dengan demikian dapat kusimpulkan bahwa kematian bagi orang Toraja  tidak sekedar menghabis-habiskan uang untuk menjamu pelayat yang hadir. Lebih dari itu, kematian bagi orang Toraja adalah tentang melepaskan dengan perlahan,  memaafkan dan menyucikan yang telah pergi, tentang peduli pada rasa sakit orang lain,  tentang menguatkan yang sedang berduka dan membuat mereka bebas dari menanggung sunyi. Dan satu hal yang pasti,  kerja sama para tetangganya.

Sepertinya mindset realistisku  (ditambah sejumput materialistis), tentang beban keluarga dengan jamuan yang harus mereka siapkan, sekarang telah berubah menjadi peristiwa tabur dan tuai.  Apa yang saat ini kau berikan pada orang lain dengan ikhlas,  suatu saat akan kau tuai.   Dan selama ini,  baru kusadari bahwa sesederhananya kehidupan keluarga yang berduka, Tuhan selalu memampukan mereka untuk "mentraktir"  tamu yang datang melayat seberapa pun jumlah orang yang datang.

Mungkin makna yang terkandung dari pesta kematian yang diciptakan oleh para tua-tua lebih "canggih" dari yang bisa kupikirkan saat ini.  Tapi bagiku,  melihat beberapa sisi positif dari budaya suku Toraja sudah lebih dari cukup.

#Saya bangga jadi orang Toraja

Ada Zombie di Toraja (?)

Kamis, 03 September 2015

"Seseorang tidak akan menghargai tanah kelahirannya sebelum ia hidup jauh dari rumahnya"

(Brida, Paulo Coelho)

Sewaktu masih kuliah di makassar (dulu ?), seorang teman pernah bertanya tentang salah satu tradisi di Toraja yaitu "Ma' Nenek". Katanya dia pernah searching di internet dan kagum dengan tradisi Ma' Nenek di Toraja dimana jenazah dapat berjalam sendiri ke peristirahatan terakhirnya/kuburan. Saya agak kaget juga dengan deskripsi Ma'nenek yang diungkapkannya, karena terus terang saja saya belum pernah melihat mayat berjalan di kampung saya. Saya pun hanya menjawab sekenahnya saja karena belum pernah melihat tradisi Ma' Nenek secara langsung. Maklumlah, dulunya saya bukan jenis manusia yg begitu tertarik dengan kebudayaan sendiri. Barulah setelah meninggalkan Toraja, saya menyadari kalau orang2 di luar sana ternyata banyak yg kepo terhadap budaya Toraja. Sehingga untuk menghindari keter-speechless-an ketika ditanya2 tentang budaya Toraja maka saya akhirnya meningkatkan kekepoan saya pada budaya sendiri.

Nah, kebetulan minggu yang lalu tradisi ini kembali dilaksanakan. Sayangnya, infonya agak terlambat sampai di telinga saya sehingga lagi-lagi saya tidak sempat menyaksikanx secara langsung. Sedihnya hati ini. Hutang dan rindu yg harus dibayar lunas, demikian halnya dengan keingintahuan maka dengan mengerahkan seluruh batin dan raga saya pun berburu info tentang tradisi itu. Untungnya salah satu teman mama jg punya keluarga yg mengadakan tradisi itu. Jadi saya bisa kepo2 gitu alias tanya jawab sama doski. Setelah cerita2 panjang lebar dan tanya2 ke mama, om, tante, dan nenek (yg agak aneh jg dengan kekepoan saya yg tiba2 ini), sampailah saya pada kesimpulan bahwasanya...ah ini terlalu skripsi ! 

Sebenarnya, di internet sudah banyak artikel tentang tradisi ini, hanya saja ada beberapa yang kurang tepat. Jadi sebagai orang Toraja yang baik nan peduli...tidak ada salahnya dong kalau saya membagikan apa yang saya tau tentang tradisi ini. Dari info yang saya dapat, tradisi Ma'nenek merupakan tradisi yang bertujuan untuk membersihkan jenazah yang sudah terlelap bertahun-tahun di dalam petinya, juga sekaligus memperbaiki dan membersihkan peti2nya juga. Nah, ketahuankan kalau orang Toraja itu tipikal penyayang banget, orang yg sudah meninggal bertahun2 saja masih diperhatikan dan dirawat, apalagi yang masih hidup ;) *kedip2in mata*

Tradisi ini hanya dilaksanakan di daerah tertentu salah satunya adalah Pangala'-Baruppu' (daerah pegunungan di Toraja Utara). Tradisi itu dilaksanakam secara rutin 3 tahun sekali tepat pada bulan Agustus. Nah, mengapa harus bulan Agustus ? Karena orang Toraja percaya bahwa patane tidak boleh dibuka sebelum musim panen selesai. Jika hal itu terjadi maka padi di sawah akan rusak dimakan ulat dan hama tanaman secara tiba-tiba. Nah looo !!

Pada saat tradisi Ma' nenek berlangsung, semua isi kuburan (peti jenazah) yang ada di kampung itu dikeluarkan untuk dibersihkan. Bukan hanya yang ada dalam patane saja, tapi yang tersimpan rapi dalam lubang dinding2 batu juga tidak ketinggalan untuk dibersihkan. Tradisi ini digelar selama 1 minggu penuh mengingat banyaknya kuburan yang harus dibersihkan. Jadi masing-masing keluarga mengurus jenazah keluarga mereka sendiri. Tidak jauh beda dengan upacara Rambu Solo', dalam tradisi Ma'nene' orang Toraja juga tetap memotong hewan. Hanya saja hewan yg dibawah ke lokasi penguburan tidak boleh dibawah pulang, harus dikomsumsi di lokasi itu juga.

Yang terpenting dari tulisan ini adalah saya ingin mengatakan bahwa tradisi Ma'nene' yang oleh media sosial sering dideskripsikan sebagai tradisi mayat berjalan adalah salah besar. Tidak ada mayat berjalan, yang ada adalah tradisi membersihkan jenazah. Mayat berjalan dulunya memang ada hanya saja bukan di Toraja melainkan di Mamasa, daerah yang berbatasan dengan Toraja.

Well, walaupun tidak sempat datang langsung ke tempat tradisi Ma'nenek di langsungkan, setidaknya saya bisa dapat beberapa gambarnya. Let see...
Jejeran peti yang sementara dibersihkan

Jenazah berdiri !!!!!!
Jenazah yang akan dibersihkan

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS