Pages

Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Poem. Tampilkan semua postingan

Kamu, puisi, dan aku

Jumat, 28 April 2017

Duku' tedong..
Awal keras tapi setelah di longo'
Jadi lembut..
Hatimu..
awalnya keras..setelah ditaklukkannya
Jadi lembut semacam pantat bayi  

Bulunangko..
Awalnya pahit, lalu disatukan dengan duku'
Dimasukkan ke dalam bambu
Uhh..sedap
Hidupmu..
Awalnya pahit, lalu ia datang
Bersama senyum dan sayangnya
Uhh..manis  

Ollon..
Awalnya jauh, sepi, tak terpandang
Mengemis cinta dari para pencari keindahan
Kini, ia angkuh..sulit ditaklukkan
Acuh pada yang memuja keindahannya
Kamu..
Awalnya pilu, risau, dan galau
Memohon secuil dari hati yang dimilikinya
Kini..kau mapan, tampan, beriman
Tak hirau lagi pada yang dulu menolakmu  

Pa'karing..
Bentuknya buruk, hitam, keras, dan asin
Coba kau makan dengan sepiring nasi panas
Lidahmu bahagia karenanya
Puisi ini..
Tidak beraturan, maksa, aneh, dan garing
Coba kau baca lagi dilatari lagu favoritmu
Senyummu merekah dibuatnya  

Katokkon..
Merah, panas, dan pedis
Tanpanya kau terus lapar
Penulis puisi ini..
Belum mandi, muka bantal, kusut
Tanpanya..senyum kecil dibibirmu itu takkan ada

From Lai' Sabe to Linggo ToMebalun

Senin, 03 Oktober 2016

Dear, Linggo ToMebalun,

Terima kasih untuk surat yg kau titip melalui pong Sattu. Telah kubaca surat itu di to'tanampo tempat kau pernah menenangkan diriku saat aku kumarrak. Hal-hal yang telah kita lalui bersama memang sematanning ta'bu.

Hanya saja, Mengkendek dan pangala' sudah terlalu jauh bagiku, apalagi jarak yang terbentang diantara kita berdua . Sudah terlalu lama kau tidak memberiku kabar. Kau terlalu sibuk menteka' mimpimu yang setinggi gunung sesean untuk memiliki 12 tedong saleko..dan aku mulai lelah ungkampai ko.

Sebulan yg lalu, pong Sattu membawah pa'anakannya ke rumahku. Seorang pia muane maganta' dan harus ku akui bahwa penangku telah mennosok kepadanya ketika pertama kali ku melihatnya. Hatiku berdebar seperti issong yg dirambi-rambi. Tatapannya membuatku terhanyut bagaikan derasnya air sungai sa'dan. Sejak itu, iya mengajakku sumalong mengelilingi kota rantepao, makan pangrarang di pong bori', kemudian bergandengan tangan di pertokoan sambil memandangi kerlap kerlip lampu sitor yg lalu lalang dibawahnya.

 Banyak lelaki yg merruku diriku setelah kepergianmu duluh, tapi hanya dia satu2nya lelaki yg membuatku mampu melupakan kisah manis kita dito'tallang. Dan tentang bapakku, hatinya sudah mala'ba pada dirimu sejak engkau dengan batta'nya mencuri sang lampa tuaknya, sehingga ketika lelaki itu dtg melamarku, bapakku dgn senang hati menerimanya, begitu pun aku.

Mungkin surat ini bagaikan billa' mataran yg telah mengira' penammu. Tapi 1 hal yg harus kau tau, bukan 12 tedong saleko yg ku rannuan, melainkan kepastian darimu. Hanya maaf yg bisa kusampaikan padamu dan harapan semoga kau bertemu baine maballo yg bisa membahagiakanmu.

Dari, Lai' Sabe'

Berjalan dalam iman

Senin, 22 Agustus 2016

Aku sudah berjalan sejauh ini..

Di jalan itu banyak kerikil tajam telah kulewati..

Rasanya perih..

Aku terjatuh..bangun..kembali melangkah..

Jatuh lagi..bangun lagi..melangkah lagi..

Kemudian jatuh lagi..

Aku lelah..

Aku marah pada Sang Pemilik Semesta

Kenapa ? Kenapa Kau berikan jalan seperti ini untuk ku lalui..

Sang pemilik semesta hanya terdiam..

Aku sungguh benci ketika Dia hanya diam..

Aku menangis karena itu satu-satunya hal yang bisa menguatkanku..

Setiap tetesan air mata membuatku merasa lebih baik..

Lalu aku mulai melihat jalan di samping kiri kananku..

Ternyata mereka juga mengalami hal yang sama..

Terjatuh..lalu bangkit lagi..

Aku yang terlalu fokus pada jalanku sendiri..

Hingga tidak melihat bahwa sekitarku juga sedang berjuang melangkah..

Tidak melihat bahwa mereka juga terluka..

Patutkah aku marah pada Pemilik Semesta ??

Tidak..

Ampuni aku..

Aku akan kembali berjalan..

Dan ketika aku terjatuh lagi..Kau yang akan mengangkatku seperti yang sudah-sudah
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS