Pages

Tampilkan postingan dengan label Toraja. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Toraja. Tampilkan semua postingan

Meng-Indonesia-kan bahasa Toraja

Kamis, 23 Mei 2019

"wiiiiii.. bagus liu toda' bajunya"

Bagi orang yang berasal dari luar Toraja,  kalimat seperti diatas sudah pasti membingungkan.  Namun,  di kalangan anak-anak Toraja yang mengakuh hits dan gawul tiada tara kalimat seperti itu normal-normal saja. 

Di kampung (baca: daerah2 yang jauh dari Rantepao) penggunaan bahasa Toraja masih begitu kental.  Jika berjalan2 ke daerah pelosok, rasanya begitu bahagia jika mendengar anak-anak kecil menyapa kami dengan "umba la mi ola cewek  ?" (baca: cewek,  kalian mau kemana ?) at least bahasa mereka membuatku benar-benar merasa berada di belahan dunia bagian Toraja,  walaupun masih agak kurang sopan karena mereka memilih memanggil kami dengan sebutan "cewek" dari pada "kakak".  Ya, tapi masih mending dari pada harus mendengar mereka memanggil kami "tanta" yee kan.

Well,  kembali ke bahasa Toraja yg di Indonesiakan ataupun sebaliknya.
Di kota (kami menyebut Rantepao sebagai kota)  akan sangat sulit mendengar remaja-remaja berbahasa Toraja padahal sebagian besar yang menuntut ilmu di kota Rantepao sebagai siswa atau mahasiswa justru berasal dari kampung.  Akui saja.  Tak usah malu-malu.

Coba saja, kalian berjalan-jalan ke kota Rantepao atau lapangan bakti, lebih bagus pada malam minggu. (Eaaa,  sarankan orang untuk keluar malam mingguan,  padahal dia sendiri tidak pernah malmingan.. Yakkodong.) *Halu nya ini penulis deh.
Hampir mustahil mendengar anak muda menggunakan bahasa Toraja.  Kamu hanya akan mendengar kalimat bahasa Indonesia dibumbui dengan kata "toda'", "liu", "komi", "ji ko", "bang mi". Nah.. Unik kan ? Entah siapa yang memulainya namun mungkin seperti inilah cari kami anak Toraja meng-Indonesia-kan bahasa Toraja. Tak apalah. Aku pun saat reunian dengan  dengan teman2 SMA  lebih senang menggunakan bahasa seperti itu.  Sekedar Nostalgia. 

Nah,  Yang ajaib ialah tidak jarang ku temukan anak-anak remaja yang sudah menggunakan kata "gak" dari pada menggunakan kata "tae'" atau "tidak". Misalnya "duhhh.. gak bisa na' toda' ikut sama kamu pia karena gak na izinkan na' pacarku". Saat itulah ku ingin berkata, "Obendo',  patei bang mo' lai' sabe' ". Padahal injak bandara saja belum pernah -,-"

Kadang agak sedih mendengar remaja-remaja tanggung  berbicara seperti itu. Entah karena malu atau keseringan nonton sinetron di tv, mereka jadi lupa dengan bahasanya sendiri. Mungkin mereka mengira dengan mengikuti cara Natasha Wilona berbicara mereka auto mirip dengan si Wilona itu.  Dek,  menggunakan bahasa Toraja tidak akan membunuhmu.  Sungguh.

Last but not least,  teruntuk yang ke-bule2an (penulis dong 8D) aku juga agak gemas dengan teman-teman yang sering mengartikan "otw" sebagai "berangkat". Ini banyak kutemukan di beranda FB, misalnya "lagi siap2 mau OTW ke sa'dan".
Dan di dunia nyata,  "gaiss,  ta OTW mi e". Agak lucu sih. Sepemahamanku,  OTW atau on the way artinya SEMENTARA dalam perjalanan. Jadi istilah "OTW" harusnya digunakan untuk menyatakan bahwa kita sedang berada dalam perjalanan.  Bukannya baru mau berangkat. 

Jadi intinya, jangan malu menggunakan bahasa Toraja jika kita sesama orang Toraja.  Jangan berusaha membohongi identitasmu karena tampang dan huruf "E"mu tidak akan pernah menipu. Yang suka pake bahasa Inggris,  tak masalah.  Karena bahasa Inggris itu sangat penting di masa ini. Dan kita tidak akan pernah pandai jika tidak learning by doing yee kan.  Asal jangan berlebihan sampai2 penjual sayur di pasar pagi ko bahasa inggris-i juga. Yang terpenting,  jangan pura-pura lupa bahwa kamu orang Toraja yang bisa bahasa Toraja.

"jadi,  mau ki OTW kemana gais ?"

that's wrong, absolutely  !

Kemuliaan hati orang Toraja dalam pesta kematian

Rabu, 14 Maret 2018

Duluhnya dengan pikiran polos nan sok lugu (ditambah sedikit kebodohan), ku kira menjadi orang Toraja sungguh merepotkan.  Bayangkan saja, jika ada yang meninggal,  keluarga harus mengeluarkan uang untuk menjamu tamu yang datang melayat, tanggung jawab untuk mengembalikan "hutang" uang,  babi,  pa'piong,  atau apapun yang dibawa oleh si pelayat. Oh ya,  dan jangan lupa dengan rentang waktu yang dibutuhkan untuk mengubur yang telah meninggal itu bukan waktu yang sebentar.  Bisa seminggu,  bahkan hingga bertahun-tahun. Jika mengadakan ibadah penghiburan, katakanlah 3 kali berturut-turut seperti yang lasimnya dilakukan di kota rantepao (yes,  i'm not even talking about big funeral ceromy yang sesuai dengan tatanan rambu solo' yang baik dan benar).. bisa dibayangkan berapa banyak yang harus dikeluarkan keluarga yang berduka untuk menjamu pelayat yang datang.

Sekedar info saja,  saat mengadakan ibadah penghiburan paling tidak keluarga biasanya menyiapkan sekurang-kurangnya 3 macam menu makanan (daging,  ikan,  sayur)  belum lagi minumannya yaitu teh, kopi,  dan ballo' dan teng gelas untuk anak-anak (ke ma'pakena ki' ). Ah,  dan pastinya rokok. Oh,  dan keluarga tidak hanya merogoh kocek untuk makanan saat ibadah penghiburan ya,  namun jauh sebelum itu yakni saat persiapan menuju ibadah penghiburan.  Yup, keluarga tentu harus menjamu bapak-bapak yang membantu mendirikan tenda/lantang, ibu-ibu yang membantu menyediakan hidangan,  dll.  Syukurlah jika keluarga yang berduka memiliki penghasilan yang lebih untuk itu,  namun jika hidup mereka hanya cukup untuk sehari-hari atau bahkan kurang,  mereka bisa apa ? Ibaratnya,  kita yang berduka,  kita juga yang harus mentraktir orang-orang yang datang melayat dan membantu 😅 Duh repotnya jadi orang Toraja.  So,  jangan salahkan orang-orang yang ingin menikah dengan orang dari luar Toraja saja dengan harapan hidupnya tidak tambah syahduh dengan tanggung jawab "mantunu".

Tapi,  seminggu ini sepertinya pikiranku lumayan terbuka dari rangkaian ibadah penghiburan disebelah rumahku.  Dari pada melihat dari segi materil yang sepertinya begitu membebani keluarga yang berduka. Mari lihat sisi paling mulia dari prosesi ibadah-ibadah kedukaan yang dilakukan sebelum almarhum/a dipatanekan.

Keluarga yang berduka dan rumahnya sepi dari pelayat,  ibaratnya sudah terluka...eh,  tanpa sengaja lukanya kena tetesan jeruk nipis pula,  ahh sakitnya bertambah-tambah. Disisi lain keluarga yang sedang berduka tidak mungkin bisa saling menghibur satu sama lain,  mereka perlu orang lain untuk menguatkan mereka. Dan mengingatkan mereka bahwa ada banyak yang peduli pada rasa duka mereka,  terlebih lagi jika banyak yang datang melayat berarti banyak yang menyayangi orang yang telah meninggal itu. Dengan demikian keluarga tentu akan terhibur.

Kedua,  kenapa orang mati di toraja terutama yang beragama Kristen tidak langsung dikubur saja supaya keluarga bisa cepat move on dan tidak larut dalam duka seperti dengan agama lain? Well,  karena kadang-kadang kita lebih baik melepas secara perlahan,  rasanya lebih mudah ditanggung. Dengan "tidur" beberapa hari di rumah,  keluarga bisa belajar untuk melepaskan pun belajar untuk lebih ikhlas kehilangan. Dan pastinya dengan begitu keluarga bisa mengumpulkan kekuatan untuk menghadapi hari penguburan. That's it.

Lebih dari semua itu,  kau bisa melihat kemuliaan di hati orang-orang Toraja ketika pesta kematian di gelar atau jika di daerah kota bisa disebut dengan ibadah penghiburan. Tetangga jauh nun di atas gunung pun yang dekat berdatangan. Mereka yang kenal dekat dengan sosok almarhum pun yang hanya sebatas tau nama almarhum datang tanpa rasa segan.  Yang laki-laki bahu membahu mengambil bambu,  memasang tenda,  membuat lantang,  memotong babi atau kerbau untuk dihidangkan saat ibadah penghiburan. Yang ibu-ibu memasak di dapur umum,  melipat kertas, mencuci piring. Yang anak-anak berlarian kian kemari membongkar isi rumah (curhat 😆)

Uniknya,  tetangga-tetangga yang jarang bertatap muka karena dibatasi oleh lorong pun gunung bertukar cerita dengan penuh keterbukaan terutama ibu-ibu, mereka saling menguatkan satu dengan yang lain. Di dapur, lelucon dewasa dan panasnya uap nasi berpanci-panci besar serta semerbak gorengan ikan lure (mairo atau entah bgmna cara org kota menyebutnya) saling bercium-ciuman di udara.  Dan pastinya lelucon itu tak perlu kubagikan di postingan ini karena akupun (pura-pura)  tidak mengerti. Dan lagi perilaku yang telah tiada menjadi cerita yang "disucikan" oleh tetangga-tetangga terdekat.  Yang jelek seolah menghilang atau diceritakan dengan lucu sehingga terdengar wajar. Dan kebaikan almarhum/a diceritakan terus menerus. Sungguh hawa yang menyejukkan.

Dengan demikian dapat kusimpulkan bahwa kematian bagi orang Toraja  tidak sekedar menghabis-habiskan uang untuk menjamu pelayat yang hadir. Lebih dari itu, kematian bagi orang Toraja adalah tentang melepaskan dengan perlahan,  memaafkan dan menyucikan yang telah pergi, tentang peduli pada rasa sakit orang lain,  tentang menguatkan yang sedang berduka dan membuat mereka bebas dari menanggung sunyi. Dan satu hal yang pasti,  kerja sama para tetangganya.

Sepertinya mindset realistisku  (ditambah sejumput materialistis), tentang beban keluarga dengan jamuan yang harus mereka siapkan, sekarang telah berubah menjadi peristiwa tabur dan tuai.  Apa yang saat ini kau berikan pada orang lain dengan ikhlas,  suatu saat akan kau tuai.   Dan selama ini,  baru kusadari bahwa sesederhananya kehidupan keluarga yang berduka, Tuhan selalu memampukan mereka untuk "mentraktir"  tamu yang datang melayat seberapa pun jumlah orang yang datang.

Mungkin makna yang terkandung dari pesta kematian yang diciptakan oleh para tua-tua lebih "canggih" dari yang bisa kupikirkan saat ini.  Tapi bagiku,  melihat beberapa sisi positif dari budaya suku Toraja sudah lebih dari cukup.

#Saya bangga jadi orang Toraja

Mengeja Nama Orang Toraja

Kamis, 04 Januari 2018

Penghujung tahun menjadi moment yang tepat untuk berkumpul bersama keluarga. Cerita-cerita tentang masa lalu diungkit kembali, kebanyakan dari cerita itu adalah yang lucu setidaknya bagi orang-orang tuaku dan aku tak mengerti dimana bagian lucu dari cerita itu,  tapi mereka tertawa terbahak-bahak dan bagiku itu sudah cukup,  mereka bahagia.  Oh iya,  mungkin yang cukup lucu bagiku adalah cerita tentang teman kecil mereka yang tiap hari bersembunyi di lemari pakaian karena malas ke sekolah. Dan suatu hari, ketika ayahnya membuka lemari itu, muncullah sepasang kaki di sela2 pakaian yang digantung dan langsung saja beliau menarik kaki itu dan jeng..jeng..muncullah penampakan anaknya lengkap dengan pakaian sekolah.  Tidak perlu kuceritakan tentang akhir kisah dari anak itu, kalian bisa menebak sendiri apa yang dilakukan sang ayah padanya.  Selain cerita yang cukup lucu itu,  ada hal lain yang menarik perhatianku ketika orang-orang tua berkumpul dan saling berbagi kisah. Ialah nama dari orang-orang yang sedang mereka kisahkan. Nah, itulah hal yang menjadi latar belakang dari tulisan ini.

Kata orang nama adalah doa, dan ku rasa kita sepakat bahwa sebaik-baiknya doa adalah yang menyiratkan berkat pun harapan. Jadi tidak kurang dan tidak lebih, dibalik sebuah nama ada harapan indah yang digantungkan orang tua pada anaknya. 
Di Toraja,  pemberian nama pada seorang anak sependengaranku ada beberapa macam.  Pertama, seperti perkataan orang-orang bahwa nama adalah doa,  sebagian orang tua di Toraja dengan penuh kebijaksanaan dan pertimbangan memberikan nama yang indah nan penuh harapan untuk sang anak, misalnya Maria Datu La'bi. Maria (perawan yang melahirkan bayi Yesus), Datu (yang terutama/teratas),  La'bi (lebih)..see,  3 kata dari nama itu semuanya bermakna positif.  Belum lagi yang saat ini sering didengar saat akta baptisan kudus di gereja.  Pendeta sering menyebut nama Kameloan (kebaikan),  Melona (baiknya),  Shalom (damai sejahtera),  dll.

Kedua,  nama yang berasal dari orang tua yang praktis. Orang tua dalam golongan praktis yang kumaksud adalah mereka yang umumnya lupa dengan tanggal lahir sendiri sehingga membuat hari ulang tahun sekehendak hati. Dan manusia yg lahir di era 90an, biasanya memanggil mereka dengan sebutan "nek". Nah,  golongan ini biasanya menamai anak sesuai dengan nama hari.  Sepertinya kebanyakan dari orang Toraja ditakdirkan untuk lahir di hari Jumat,  Sabtu,  dan Minggu. Namun bukan orang Toraja namanya jika namanya tidak disebut dengan dialek Toraja.  Maka timbullah nama Duma',  Sattu,  dan (tentunya) Minggu.  Selain nama hari,  orang tua jenis ini biasanya memberikan nama pada anaknya sesuai dengan peristiwa yang terjadi ketika sang anak dikandung. Misalnya "Tappe" (ditinggalkan)  yang diberikan pada sang anak karena ayahnya meninggal sebelum sang anak dilahirkan. Atau juga "Tambaru" (tahun baru)  karena si anak lahir telat saat pergantian tahun.

Ketiga,  nama yang ditambahkan sesuai dengan kebiasaan sang pemilik nama.  Ini bukan lagi pemberian dari orang tua melainkan akibat dari apa yang sering dilakukan oleh sang pemilik nama.  Semisal "Sampe panjar" untuk Bapak yang sering meminta panjar sebelum melaksanakan tugasnya. "Sampe kayok" (kayok=garuk), bapak yang suka minta digaruk oleh istrinya 😆. Dan masih banyak lagi Sampe2 lainnya.

Keempat,  nama yang diberikan oleh orang tua (atau kakak perempuan)  yang sok kebule'-bule'an. Tipikal manusia seperti ini biasanya mencari dan menemukan segala hal melalui internet termasuk urusan nama.  Sebut saja nama "Erland Vincent Gavrila". Ketik saja nama ini di google,  niscahyah akan muncul artinya yang kurang lebih adalah rajawali perkasa yang sanggup mengatasi segalah kesulitannya dengan kekuatan dari Tuhan.  Ah,  indah sekali.
Atau gabungan nama pemain sepak bola "Lionel Christiano Alesandro". Orang tua ini biasanya tidak lagi menganggap marga sebagai suatu hal yang harus dipertahankan,  dan saat sang anak mulai bertumbuh dan sering sakit-sakitan.. barulah orang tuanya senewen ingin mengganti nama sang anak.

Kelima, nama yang diberikan seperti dengan nama yang tertulis dalam Alkitab semisal "Matius", "Markus", "Yusuf", "Ester", "Daud", dll. Saat di translete ke dalam bahasa Toraja maka muncullah nama seperti Matiu', Makku',  Ucu',  Ette, dan Dau'.

Keenam,  nama yang kedengaran enak walaupun lumrah.  Mungkin orang tua jenis ini ketika masih muda dulu sangat suka menonton tayangan TV nasional yang berpusat nun di pulau Jawa sana (itu pun hasil nebeng di tetangga sebelah rumah), sehingga ketika sang anak lahir jadilah nama semisal Pratiwi Anggreini Sulo muncul. Syukurnya orang tua jenis ini masih berbesar hati memberikan marga dibelakang nama anaknya yang kejawa-jawaan itu.  Ketika sang anak beranjak dewasa,  pernyataan seperti "orang jawa ya?" "kok namanya kayak orang jawa ?" "kamu beneran orang toraja? " (padahal lindo2 bulinangko liu 😅) Dan disaat seperti itu,  marga/fam selalu menjadi penyelamat.

Ya,  ada begitu banyak cara bagi orang Toraja untuk menemukan nama yang tepat bagi anaknya.  Dan sebaik apapun nama itu..terkadang akan kedengaran aneh atau mungkin juga unik bagi orang luar. David menjadi Dapi',  Tomas menjadi Toma'...hingga yang berubah total semisal Paulus menjadi kotto 😅
Pada akhirnya, nama tetaplah nama......tanpanya kau tidak ada.

From Lai' Sabe to Linggo ToMebalun

Senin, 03 Oktober 2016

Dear, Linggo ToMebalun,

Terima kasih untuk surat yg kau titip melalui pong Sattu. Telah kubaca surat itu di to'tanampo tempat kau pernah menenangkan diriku saat aku kumarrak. Hal-hal yang telah kita lalui bersama memang sematanning ta'bu.

Hanya saja, Mengkendek dan pangala' sudah terlalu jauh bagiku, apalagi jarak yang terbentang diantara kita berdua . Sudah terlalu lama kau tidak memberiku kabar. Kau terlalu sibuk menteka' mimpimu yang setinggi gunung sesean untuk memiliki 12 tedong saleko..dan aku mulai lelah ungkampai ko.

Sebulan yg lalu, pong Sattu membawah pa'anakannya ke rumahku. Seorang pia muane maganta' dan harus ku akui bahwa penangku telah mennosok kepadanya ketika pertama kali ku melihatnya. Hatiku berdebar seperti issong yg dirambi-rambi. Tatapannya membuatku terhanyut bagaikan derasnya air sungai sa'dan. Sejak itu, iya mengajakku sumalong mengelilingi kota rantepao, makan pangrarang di pong bori', kemudian bergandengan tangan di pertokoan sambil memandangi kerlap kerlip lampu sitor yg lalu lalang dibawahnya.

 Banyak lelaki yg merruku diriku setelah kepergianmu duluh, tapi hanya dia satu2nya lelaki yg membuatku mampu melupakan kisah manis kita dito'tallang. Dan tentang bapakku, hatinya sudah mala'ba pada dirimu sejak engkau dengan batta'nya mencuri sang lampa tuaknya, sehingga ketika lelaki itu dtg melamarku, bapakku dgn senang hati menerimanya, begitu pun aku.

Mungkin surat ini bagaikan billa' mataran yg telah mengira' penammu. Tapi 1 hal yg harus kau tau, bukan 12 tedong saleko yg ku rannuan, melainkan kepastian darimu. Hanya maaf yg bisa kusampaikan padamu dan harapan semoga kau bertemu baine maballo yg bisa membahagiakanmu.

Dari, Lai' Sabe'

Ada Zombie di Toraja (?)

Kamis, 03 September 2015

"Seseorang tidak akan menghargai tanah kelahirannya sebelum ia hidup jauh dari rumahnya"

(Brida, Paulo Coelho)

Sewaktu masih kuliah di makassar (dulu ?), seorang teman pernah bertanya tentang salah satu tradisi di Toraja yaitu "Ma' Nenek". Katanya dia pernah searching di internet dan kagum dengan tradisi Ma' Nenek di Toraja dimana jenazah dapat berjalam sendiri ke peristirahatan terakhirnya/kuburan. Saya agak kaget juga dengan deskripsi Ma'nenek yang diungkapkannya, karena terus terang saja saya belum pernah melihat mayat berjalan di kampung saya. Saya pun hanya menjawab sekenahnya saja karena belum pernah melihat tradisi Ma' Nenek secara langsung. Maklumlah, dulunya saya bukan jenis manusia yg begitu tertarik dengan kebudayaan sendiri. Barulah setelah meninggalkan Toraja, saya menyadari kalau orang2 di luar sana ternyata banyak yg kepo terhadap budaya Toraja. Sehingga untuk menghindari keter-speechless-an ketika ditanya2 tentang budaya Toraja maka saya akhirnya meningkatkan kekepoan saya pada budaya sendiri.

Nah, kebetulan minggu yang lalu tradisi ini kembali dilaksanakan. Sayangnya, infonya agak terlambat sampai di telinga saya sehingga lagi-lagi saya tidak sempat menyaksikanx secara langsung. Sedihnya hati ini. Hutang dan rindu yg harus dibayar lunas, demikian halnya dengan keingintahuan maka dengan mengerahkan seluruh batin dan raga saya pun berburu info tentang tradisi itu. Untungnya salah satu teman mama jg punya keluarga yg mengadakan tradisi itu. Jadi saya bisa kepo2 gitu alias tanya jawab sama doski. Setelah cerita2 panjang lebar dan tanya2 ke mama, om, tante, dan nenek (yg agak aneh jg dengan kekepoan saya yg tiba2 ini), sampailah saya pada kesimpulan bahwasanya...ah ini terlalu skripsi ! 

Sebenarnya, di internet sudah banyak artikel tentang tradisi ini, hanya saja ada beberapa yang kurang tepat. Jadi sebagai orang Toraja yang baik nan peduli...tidak ada salahnya dong kalau saya membagikan apa yang saya tau tentang tradisi ini. Dari info yang saya dapat, tradisi Ma'nenek merupakan tradisi yang bertujuan untuk membersihkan jenazah yang sudah terlelap bertahun-tahun di dalam petinya, juga sekaligus memperbaiki dan membersihkan peti2nya juga. Nah, ketahuankan kalau orang Toraja itu tipikal penyayang banget, orang yg sudah meninggal bertahun2 saja masih diperhatikan dan dirawat, apalagi yang masih hidup ;) *kedip2in mata*

Tradisi ini hanya dilaksanakan di daerah tertentu salah satunya adalah Pangala'-Baruppu' (daerah pegunungan di Toraja Utara). Tradisi itu dilaksanakam secara rutin 3 tahun sekali tepat pada bulan Agustus. Nah, mengapa harus bulan Agustus ? Karena orang Toraja percaya bahwa patane tidak boleh dibuka sebelum musim panen selesai. Jika hal itu terjadi maka padi di sawah akan rusak dimakan ulat dan hama tanaman secara tiba-tiba. Nah looo !!

Pada saat tradisi Ma' nenek berlangsung, semua isi kuburan (peti jenazah) yang ada di kampung itu dikeluarkan untuk dibersihkan. Bukan hanya yang ada dalam patane saja, tapi yang tersimpan rapi dalam lubang dinding2 batu juga tidak ketinggalan untuk dibersihkan. Tradisi ini digelar selama 1 minggu penuh mengingat banyaknya kuburan yang harus dibersihkan. Jadi masing-masing keluarga mengurus jenazah keluarga mereka sendiri. Tidak jauh beda dengan upacara Rambu Solo', dalam tradisi Ma'nene' orang Toraja juga tetap memotong hewan. Hanya saja hewan yg dibawah ke lokasi penguburan tidak boleh dibawah pulang, harus dikomsumsi di lokasi itu juga.

Yang terpenting dari tulisan ini adalah saya ingin mengatakan bahwa tradisi Ma'nene' yang oleh media sosial sering dideskripsikan sebagai tradisi mayat berjalan adalah salah besar. Tidak ada mayat berjalan, yang ada adalah tradisi membersihkan jenazah. Mayat berjalan dulunya memang ada hanya saja bukan di Toraja melainkan di Mamasa, daerah yang berbatasan dengan Toraja.

Well, walaupun tidak sempat datang langsung ke tempat tradisi Ma'nenek di langsungkan, setidaknya saya bisa dapat beberapa gambarnya. Let see...
Jejeran peti yang sementara dibersihkan

Jenazah berdiri !!!!!!
Jenazah yang akan dibersihkan

Toraja, Expert in Handle The dead

Rabu, 13 Mei 2015



Toraja is the one of tour destination  that must be visited by traveler. If other place offered the beautiful sea, beach with the white sands, and many more, Toraja offered the different things. Yup, you can’t find such a thing in Toraja, more than that  you will be amazed with it unique culture, beautifulness of traditional houses, and hospitality of inhabitants. Culture in Toraja is known as the unique one, one thing that might be explained it is how they treated the dead. This uniqueness will be found in several historical sites which became tourism object. Bdw, Toraja is my hometown and I proudly tell you the story about it, happy reading ^^

Londa  
                          
Tau-tau represented the dead
Londa, cave cemetery in the  hill  is located about 5 km south of city of Rantepao. When you visits  this site, the first thing that you have to do is buying the ticket in the counter. Same as other sites, in here you can find many souvenir store. You have to go down the stairs and walk the path that lead you to the cave.  In the face of it hill you can see many wooden coffins are hung and it shape seems buffalo and pig. In old times, that coffins had been used by Toraja’s people. Besides that, there are several statue complete with traditional clothes on it’s body are stand in neat rows in cracks hollowed, seems like the balconies of house. These represented the dead who buried there. Not only that, in the surface of the hill there are so many holes, even in the highest of it hill. Base of the culture, the higher the grave the higher their social status. You may be wondered how toraja’s people in the old times made the grave in the stone and put it in the very higher hill. 

Erong, traditional wooden coffin of Toraja
Before you enter inside the cave, make sure you rent a lamp because the cave is very dark. When you walk inside the cave, you will be very welcomed by many craniums and bones that had been placed in the wall of the cave ^^ Smell of mystical “things” will be increased when you walk far into the cave, instead the land and the atmosphere is humid, and stack of the old wooden coffins decorate every side of the cave. People believe that this cave cemetery has been there since 700 years ago, because of it there are many brittle coffins. Morever,  you can see several dead body peek at you from it’s coffins.

Inside the cave
There are about a thousand human corpses had been buried on this cave. However, there is interest love story in this site. Base of the myth, 70 years ago there was a couple named  Lobo’ and Andui. They killed their self because their love was rejected by their family as the result of family relationship between the suicide. If you want to see it directly, do come !

Kambira

Baby grave

Kambira is located in Sangalla’, it’s about 20 km south of the city of Rantepao (the capital of Nortern Toraja). As I have said before, Toraja’s people always has the unique tradition to treated  the dead. The next unique tradition is use the tree as the grave. If you eager to see that kind of grave, you can see it in baby grave site named Kambira. However, only the babies without teeth could be buried in the tree. The tree that used to buried the babies was named pohon Tarra’. It’s tree has diameter about 100 cm – 300 cm. The holes to placed the baby had been made in the surface of the tree’s trunk. Then, the holes were being closed by Ijuk (palm fiber of the sugar palm). This funeral ceremony was the simple one, and it was did by adherents of Aluk Todolo (Reliance before Gospel came to Toraja)
            You may be wondered about why the babies must buried in the tree. Toraja’s people in the old period believed that if they used the tree as grave, then their babies would be grown as the tree. Sap of the tree was believed as alternate of mother’s milk. The last, Toraja’s people believed that if there bird flown on that tree, the babies spirit would be flown by that bird to Puya. In old period, Toraja’s people believed that Puya was the place that their belonged when they died. This kind of funeral ceremony was conducted a dozens or even a hundreds of years ago, nowadays  the babies body is blended with the tree. If you want to see it directly, go grab your bag and visit Toraja ^^

Simbuang Batu (Bori)

Simbuang batu

The other thing that also unique in Toraja is fabrication a tall stone (menhir) called Simbuang batu. It has been symbolization of the glorius funeral ceremony. The place that this Simbuang batu can be found is in the Rante Kalimbuang, which is located in Bori’, it is about 5 km from City of Rantepao. 
In this place, many big funeral ceremony had been presented. For Toraja’s people, ceremony that involved establishment of Simbuang batu was not the simple ceremony. To hold this ceremony, the families of the dead must sacrifice at least 24 buffalos. Not only as the symbolization of glorious ceremony, this stone was used to tied the buffalo to be sacrificed.
As the result of being the place of many big funeral ceremonies in old times, in this place you will see the several building with it roof’s like Tongkonan (tongkonan : traditional house of Toraja). Between the stones, there are building called Balakkayan. Balakkayan is like a stage that used to distribute meats that has been cut. In that place, the person was charged to distribute the meats would shout the name of meat’s receiver. Not far from the stones, there is a building named Lakkian. In that place, the body dead would be laid during the ceremony. This building contained with two part, upstairs for placed the corpse, and downstairs for the families of the dead.

Stone Grave
The atmosphere of this place is very cool and fresh because there are many trees and bamboos. Not far from the stones, after walk the path you will see the big stone with holes on it as the place to bury. Each hole is owned by the family, so a hole can be used to bury the several corpses.
 
If you are looking for the different holiday, then Toraja will be the best choise. This town is very simple but reach with unique tradition and hospitality of inhabitants. Happy holiday ^^
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS