Pages

Sepenggal kisah dari MIWF 2016

Minggu, 22 Mei 2016

Panggung MIWF 2016
Makassar International Writer Festival resmi ditutup kemarin, tapi jangan bersedih karena ini hanyalah jedah untuk MIWF berikutnya. Dan walaupun sudah berakhir, euforia dari event ini belum hilang dari benak saya. Sungguh mubazir jika cerita yang tercipta kemarin harus tenggelam oleh rutinitas2 saya kedepan. Jadi izinkanlah saya bertutur sedikit tentang kisah indah di Sabtu kemarin.

Hm...mungkin kalian berpikir, mengapa Sabtu ?? Kan MIWF dimulainya tgl 18-21 Mei. Yah...apa mau dikata, pekerjaan membuat saya hanya sempat mengikuti Miwf di hari terakhir. Jujur saja, awalnya saya tidak pernah mendengar tentang event ini sampai sebulan sebelumnya seorang sahabat meminta saya untuk menemaninya ke event ini. Tapi bukan latah ya...saya juga suka menulis dan baca buku kok, suka banget malah :) That's why, saya mengiyakan permintaan teman saya. Sadly, saya cuma bisa ikut di hari terakhir saja. Tapi sungguh, itupun sudah jadi pengalaman luar biasa bagi saya.

Ready to meet Ika Natasha

Nah..sabtu kemarin itu, salah satu agendanya adalah launcing buku terbarunya mbak Ika Natasha. Dan karena sahabat saya itu telah ditakdirkan untuk nge-fans setengah hidup pada si Mbak Ika Natasha, maka saya dan Ria dengan senang hati menemani Yayu. Saya punya 3 alasan untuk ikut, pertama, lumayanlah...malam minggu tidak kosong2 amat. Kedua, saya agak penasaran juga dengan sosok yang menciptakan karakter Alexandra dan dokter Beno dalam novel2nya. Ketiga, saya tidak bisa membayangkan jika hasrat sahabat saya untuk hadir dalam Launching Buku The Architecture of Love tidak kesampaian. Takut dianya galau menahun.

 Maka berangkatlah kami bertiga ke sebuah hotel tempat Launching buku dilangsungkan. Kami tiba pada jam 8 pagi itu, dan yup...antrian sudah mulai mengular. Acaranya dimulai pada jam 10. Kebanyang dong ya antriannya sepanjang apa. Satu persatu kami mulai memasuki ruangan, dan mengambil posisi duduk di barisan ketiga. Diawali dengan diskusi bersama Ika Natasha dan Teguh Wicaksono (utk lebih jelasnya siapa doski, silakeun di googling aja) dan dipandu oleh sang founder MIWF yakni Lili Yulianti Farid. Acaranya seru banget, even awalnya saya tidak begitu ngeh dengan tokoh River yang mereka bicarakan. Seiring berjalanya diskusi, saya baru tau kalau itu sosok lelaki dari buah pikiran Ika Natasha yang tertuang dalam kicauan2 twitternya. Dan hebatnya, si mbak juga melibatkan pembaca untuk ikut menentukan alur ceritanya.

Lounching TAOL jreng jreng jreng !!
Diskusi selesai, berlanjut dengan launching buku TAOL secara simbolis. And then, yang paling ditunggu2 oleh para penggemar Ika Natasha...yup apalagi klu bukan sesi tanda tangan dan foto bareng. Agenda kedua di hari terakhir MIWF adalah diskusi bersama Miles dkk dengan tema "Don't Judge The Book by It's Movie". Tapi karena beberapa hal...kami melewatkannya.

With "orang" twitter Indonesia :D
Yang ketiga, adalah MIWF 2016 closing night. Acaranya asli seru pake banget ! Diawali dengan aksi teaterikal diiringi musik yang....ngeri2 sedap. Berlanjut dengan berbagai kalimat2 syahdu yang keluar dari hati tulus, pikiran, dan mulut para pelaku sastra yang menembus hingga ke sukma ! Kemudian ada juga aksi perlawanan terhadap pemberangusan buku secara simbolis dengan mengacungkan buku, bukan kepalan tinju ! Malam itu saya disadarkan betapa menulis itu mulia, jujur, dan harus tulus. Sangat disayangkan, ketika kerap kali kebebasan untuk mengungkapkan kebenaran masih dihalangi oleh segelintir pihak yang merasa dirugikan. Namun, tidak mungkin untuk hidup dalam narasi tunggal yg diciptakan oleh pihak2 tertentu, dan pura-pura lupa pada kebenaran. Hanya ada satu kata, "lawan !!!"

Photo by Revius
Oh ya...dan jangan pernah lupa pada sosok laki2 dari tana Papua yang hatinya serupa malaikat. Walaupun hidup dalam kekurangan tapi beliau tidak tutup mata pada masa depan anak2 di desanya. Beliau berusaha meningkatkan minat baca anak2 disana dengan menyediakan buku2 yang sekiranya dapat membuka wawasan mereka.

Malam itu sungguh indah. Puisi, pelajaran hidup, sahabat, langit, bulan, bintang2, dan tidak lupa lantunan suara indah dari Leona Rachel. Komposisi yang tepat untuk malam minggu perempuan singel ;) Seolah Tuhan begitu dekat, damai.

"Rumah" kita

Minggu, 17 April 2016

Wefie wif kakak2 yg sudah tua

wefie with adik2 PMKO


Peralihan dari situasi yg rame menuju ke kamar kost yg sepi sering sulit untuk ditangani. Dari pada cuma tatap2an sama dinding kamar kost, mending tatap2an sama kamu *ehhhh. Mending coret2 dikit tentang kita yg kemarin menghabiskan sabtu malam bersama. Menyenangkan bisa menghabiskan 1 malam bersama mereka yg ku sebut anak2 terang. Tidak terasa sudah 6 tahun aku menjadi bagian dari rumah itu. Rumah yang punya nama PMKO Fisip Uh. Ku sebut saja ia rumah karena ia tempatku bertumbuh menjadi seperti adanya aku saat ini. Ku sebut ia rumah karena banyak tantangan yang ia beri untukku yang walaupun tidak muda tapi ternyata bisa ku lewati dan membentuk karakterku menjadi perempuan yang (agak) tangguh ;)

Aku dibesarkan dalam rumah itu bersama saudara2 yang lain. Sayangnya banyak dari mereka yang harus pergi meninggalkan rumah itu untuk mengejar mimpi2 mereka yang lain. Beruntung bagi kami yang masih bisa tetap mengejar mimpi dan bisa tetap bernaung di rumah itu. Sekarang rumah itu kedatangan adik2 yang baru. Adik2 yang kelak menjadi penerus PMKO Fisip UH. Adik2 yang kelak akan menjaga rumah itu ketika kami yang sudah lebih duluh bernaung didalamnya harus meninggalkan rumah itu juga.

Buat kalian yang baru : Terima kasih karena sudah datang dan tinggal di rumah kita. Mungkin beberapa dari kalian masih sedikit asing dengan keadaan rumah ini, tapi seiring berjalannya waktu kalian akan mendapat sahabat dan saudara di dalamnya.

Mungkin kelak, beberapa dari kalian akan kehabisan kata2 untuk memanggil teman2 kalian yang lain, yg mulai lelah dan tertarik dengan "rumah" lain di luar sana. Mungkin beberapa dari kalian akan pusing dengan beban yang nantinya diletakkan di pundak kalian. Mungkin juga beberapa dari kalian akan merasakan titik jenuh ketika harus mengerjakan hal2 yang sama setiap minggunya (menjadi PF dan liturgis misalnya). Mungkin kalian juga akan mengalami rasa deg2an plus mules ketika melihat kakak2 kalian yang dalam kesehariannya begitu ramah dan penyayang tiba2 menjadi lebih menakutkan dari pada kecoak terbang saat LPJ. Dan mungkin juga beberapa dari kalian akan dekat dengan jodoh orang lain di sana :D

Kita tidak bisa benar2 memastikan, apa yang akan kalian alami ke depan saat bernaung di rumah itu. Tapi adik2ku, percayalah bahwa apapun yang kalian lalui nantinya susah atau senang...akan menjadi alat Tuhan untuk membuat kalian menjadi pribadi yang lebih kuat dan dewasa dalam iman. Dan ingat selalu, bahwa kalian tidak sendiri. Di dalam rumah itu, ada banyak karakter yang akan menopang satu sama lain. Selamat datang di rumah, selamat berproses !
 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS