Pages

Updating my life on blog, after so long

Jumat, 24 Agustus 2018

Seperti yang kalian tau sekarang ini saya lagi fokus di dunia perjahitan...halaah ! Yang dulunya cuma sibuk memungut remah-remah semangat yang hampir hilang tertiup angin krisis seperempat abad,  kini saya mulai merasakan kemerdekaan setidaknya dari salah satu fase paling menyesakkan yang mau tidak mau harus dialami oleh seluruh makhluk ciptaan Tuhan yang termulia, manusia.

Well,  kali ini saya tidak akan membahas tentang krisis seperempat abad karena kalian akan atau sudah melalui itu, but now saya ingin menceritakan tentang salah satu akibat...ow, "akibat" bukan kata yang tepat, karena kedengarannya malah merujuk pada sesuatu yang negatif.  Hm... Let say "hasil", kedengarannya jauh lebih baik.  Jadi,  saya akan menceritakan salah satu hasil dari krisis berkepanjangan yang malangnya harus saya alami beberapa bulan di belakang sana. Nah,  salah satu hasilnya adalah BISA MENJAHIT.

Percaya atau tidak,  sebelum bulan September 2017 saya tidak tau apa-apa tentang menjahit.  Jangankan mau jahit baju,  pasang benang ke mesin jahit yang alurnya berliku-liku kayak kehidupan (curcol mi sede') saja saya sudah bingung setengah hidup.  Tapi sepertinya pepatah yang mengatakan "dimana ada kemauan disitu ada jalan" sungguh benar (kecuali dalam hal C.I.N.T.A)
Karena krisis seperempat abad,  saya mulai mengenal diri saya yang sesungguhnya,  seriusan.  Jadi ingat sama salah satu kalimat ajaib di buku Adultery-nya om Paulo Coelho yang bunyinya kurang lebih "kau harus tersesat sejauh-jauhnya untuk bisa menemukan dirimu yang sesunggubnya" tsaaah.

Duhh,  intronya kepanjangan ya.. well,  intinya setelah "tersesat" dalam ekpektasi2 manusia disekeliling saya, dan cita-cita mulia saya untuk menyenangkan hati semua orang.. Saya akhirnya menemukan diri saya dan apa yang saya sukai untuk dilakukan (dan untungnya yang saya sukai itu bisa menghasilkan uang jika dilakukan dengan baik)

Nah,  sekarang kita masuk kebagian reffrein.  Beberapa teman sempat bertanya "tiwi.. Kursus jahit dimana? " Kemudian saya jawab " nda ikut2 kursus kok,  cuma modal youtube,  pinterest,  sama tanya2 ke mama"
And then,  they said "oww,  pantas..penjahit pale mamamu di'"
Kesannya seperti karena saya anak penjahit, semuanya terasa lebih gampang bagi saya untuk belajar menjahit.  Mereka tidak tau bahwasanya seandainya saya punya uang lebih,  saya akan lebih memilih ikut kursus daripada belajar ke mama.  Why  ?

Selain karena ilmu yang akan saya peroleh jika ikut kursus bisa lebih bertahap,  teratur,  dan lengkap. Belajar ke mama bukan perkara yang muda loh.  Harus selalu berlapang dada untuk mendengar kata2 pahit nan menyesakkan dada jika penyakit lalod saya mulai kambuh dengan penjelasan mama.  Dan parahnya lagi saya tidak bisa berkata "mamaku saja tidak pernah bentak-bentak k' kayak begitu T.T hiks hiks" Karena yang jadi terdakwanya adalah mama saya sendiri.

Saya tidak punya niat untuk "mendiskreditkan" mama sedikitpun ya.  Saya sangat bersyukur punya teladan perempuan kuat sepertinya.  Saya hanya ingin membagi duka dari belajar menjahit yang dibenak beberapa orang sepertinya terlalu gampang saya dapatkan. But believe me,  it's not as easy as u think. Saya betul-betul harus fokus untuk bisa tiba ditahap sekarang ini,  dan saking fokusnya saya bahkan lupa dengan salah satu resolusi saya untuk lebih rajin menulis di blog. Duh,  semoga kedepannya bisa lebih produktive lagi.. Yeyy,  semangat !!

Mungkin untuk postingan selanjutnya saya akan menulis lebih detail tentang bagaimana proses yang saya lalui dalam belajar menjahit tanpa ikut kursus dengan harapan semoga bisa mengingatkan teman-teman bahwa untuk memulai suatu usaha tidak selalu harus mengeluarkan modal yang besar.

Well,  demikianlah tulisan saya yang rada-rada unfaedah ini.  Selamat malam,  dan sampai jumpa di postingan selanjutnya.

The sweetest thing i've ever seen, ia...aku anaknya suka baper sih

Senin, 21 Mei 2018

Sebelas tahun yang lalu tepatnya pada 19 Mei,  Tuhan memberikan kado istimewa di tengah-tengah keluargaku. Yup,  seorang bayi laki-laki yang setelah bergumul dengan sekian banyak nama2 bule akhirnya dengan bangga kami namai Erland Vincent Gavrilla tanpa nama Fam/marga di belakangnya. Saat itu aku berumur 15 tahun,  so...jika sekarang aku datang ke sekolahnya sekedar menjemput atau mengambil rapot beberapa orang tua yang negatif sering melihatku dengan tatapan aneh yang jika diterjemakan ke dalam kalimat sinetron Indonesia maka bunyinya kurang lebih akan seperti ini,  "huh!!  Dasar anak zaman sekarang,  masih kecil sudah punya anak." atau "ckckck... pasti korban hamil sebelum nikah". Tapi tak apalah, aku tetap bersyukur punya adik yang jarak umurnya denganku bagaikan "hatimu dan hatiku" dalam lagu yang dinyanyikan oleh Titik Sandora dan Sophan Sophian,  terbentang jurang yang tinggi ~~

19 Mei setahun yang lalu, kami sekeluarga merayakan ulang tahunnya yang ke 10. Anak-anak kecil berdatangan, kado-kado bertumpuk,  balon dimana-mana,  lagu selamat ulang tahun dinyanyikan,  dan doa tulus dipanjatkan pada Tuhan. Harusnya hari itu aku bahagia tapi karena salah satu sahabatku berpulang ke rumah Bapa 3 hari sebelumnya,  maka rasanya campur aduk dan susah untuk kutuliskan.

Hari ini,  19 Mei 2018. Kami tidak merencanakan perayaan apapun berhubung tahun lalu ulang tahunnya sudah dirayakan.  Aku hanya akan memasak spaghetti  yang memang beberapa minggu sebelumnya sudah kurencanakan namun belum terealisasi karena puji Tuhan selalu saja ada kain-kain yang menuntut untuk segera kusulap menjadi dres-dress cantik. Adikku senang-senang saja dengan ide makan spaghetti yup karena ini memang makanan favorit kami #2. Diposisi pertama bertengger tempe goreng tepung sajiku. 
Jam 6 sore tadi,  semua bahan-bahannya sudah siap dan aku segera mulai memasak. Hingga kemudian dari teras rumah kumpulan bocah yang menamai dirinya belkom junior menyanyikan lagi "selamat ulang tahun" dengan membawah sekotak cake yang diatasnya diletakkan beberapa lilin. Dari mana mereka mengetahui hari ulang tahun adikku ?  Entahlah.  Mungkin si erland juga punya kebiasaan yang sama seperti kakaknya yaitu dengan tidak tau malu mengingatkan teman-temannya bahwa hari ini ulang tahunnya.  Mungkin.
Tapi bukan itu yang terpenting.  Yang penting adalah apa yang harus kami berikan kepada 15 bocah yang dengan tulus hati datang membawakan kue ulang tahun untuk adikku. Spaghetti ini tidak mungkin cukup. Jadilah Sarimi isi 2 rasa soto 4 bungkus menjadi penyelamat kami malam ini. Mereka senang bukan main. Sepiring besar spaghetti,  seloyang Sarimi Soto dengan topping telur rebus,  tempe sambel kecap dan nasi seadanya habis tak bersisa dalam waktu sekejap.

Tapi eh tapi,  yang paling manis dari yang termanis hari ini datangnya dari kado bawaan salah satu teman adikku. Dia adalah yang terkecil dari teman-temannya. Umurnya kuperkirakan baru 5 tahun. Kadonya sederhana,  dibungkus kertas tulis dan berisi 2 permen loli Milkita dan 1 Biskuit Gary Salut.  Ketika melihat kado ini, saya langsung merinding.  Bukan karena melihat hantu yaa,  tapi karena bawaan dari dulu yang terjadi ketika aku mengalami hal-hal yang massive semisal tahan buang air kecil,  lihat gebetan, dll 😅 Kalian juga kadang seperti itu kan? Atau cuma saya. Well, hope u know what i mean. Nah untuk kali ini,  aku merinding karena kado ini.  Bukan karena cara membungkusnya,  bukan karena isinya melainkan karena ketulusannya memberikan kado ini untuk adikku.  Mungkin saja ia telah merelakan uang jajan dari mamanya untuk membeli permen2 dan kue itu.  Ah, sungguh Tuhan selalu tau cara untuk mengajarkanku sesuatu,  bahkan lewat anak sekecil ini yang belum lagi duduk di bangku sekolah.  Hari ini dari anak itu,  aku belajar untuk memberi dengan apa yang ada padaku dan bukan dengan apa yang belum aku miliki atau yang kuharapkan dapat ku miliki suatu saat nanti,  karena jika seperti itu maka aku akan selalu menunggu waktu yang tepat untuk menjadi berkat bagi orang lain. Dan yup,  seperti qoutes yang berseliweran di Internet "tidak akan ada waktu yang tepat bagi orang yang terus menunggu". Bagiku quotes itu tidak mengada-ngada.

Oh ada lagi satu kado yang tidak kalah mengesankan,  berisi 2 buku tulis yang dibungkus asal-asalan sehingga selotipnya melekat pada cover si buku tulis.  Jika aku mencoba membuka bungkusan kado itu maka beberapa bagian dari cover bukunya jelas akan ikut robek.  Tapi tak apa,  justru ini menjadi bukti penting bahwa kado-kado itu disiapkan sendiri oleh anak2 kecil itu. Ah sungguh manis,  manis sekali.

Terima kasih adik2 dan anak2 kecilku,  untuk warna lain yang kalian berikan dalam ritual 19 Mei.  Terima kasih karena membuat adikku merasa disayangi.  Aku percaya semakin banyak cinta yang Erland terima,  maka akan semakin banyak juga yang bisa ia bagikan. 

 
FREE BLOGGER TEMPLATE BY DESIGNER BLOGS